Sabtu, 12 September 2009

DALIL SUNNAH TENTANG CINTA ALLAH

DALIL SUNNAH TENTANG CINTA ALLAH

a. Dari Abu Darda’; ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda; “Ada tiga orang di mana Allah mencintainya, tersenyum padanya, dan merasa senang dengannya. Pertama, orang yang berperang demi Allah dalam satu pasukan. Kadang ia terbunuh, kadang pula dianugerahi kememnagan dan kecukupan oleh Allah, seraya Ia berfirman: ‘Lihatlah hamba-Ku ini, bagaimana ia bersabar karena Aku?’ Kedua, orang-orang yang punya isteri cantik dengan kasur empuk, namun ia melakukan qiyamullail. Allah berfirman tentangnya: ‘Ia meninggalkan syahwatnya dan mengingat Aku. Padahal kalau mau ia bisa saja tidur.’ Ketiga, orang yang berpergian bersama rombongan. Kemudian orang-orang dalam rombongan itu terjaga dalam rombongan itu terjaga malam, lantas diserang kantuk dan tertidur, tetapi ia bangun di waktu sahur, dalam susah dan senang.
b. Dari amir bin Sa’ad; ia bertutur: Ketika Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Di atas ontanya, datanglah anaknya, Umar. Ketika melihatnya, Sa’ad berkata, “Saya berlindung kepada Allah dari keburukan pengendara ini,” seraya turun dari kendaraannya. Umar berkata padanya: “Apakah kamu (baca: ayah) berpergian dengan unta dan kambing serta meninggalkan manusia dan saling berbantahan tentang kekuasaan di antara mereka?” Kemudian Sa’ad memukul dadanya dan berkata, “Diam! Saya telah mendengar Rasulullah bersabda: Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang bertakwa lagi kaya dan menyembunyikan diri.

Takwa dalam hadits ini berarti melaksanakan apa yang diwajibkan Allah dan menjauhi apa yang diharamkan-Nya.

Kaya berarti kaya diri, jiwa dan hati. Inilah kaya yang dicintai Allah SWT, seperti sabda Rasulullah saw: “…Namun kekayaan yang sebenarnya adalah kaya jiwa.”

Al-Qadhi (Iyadh) berpendapat, maksud kaya di sini adalah kaya harta.

Adapun makna menyembunyikan diri adalah melakukan ibadah yang hanya diketahui Allah, sibuk dengan urusannya tanpa diketahui orang lain.

Al-hafizh ra. Mengatakan:

“Orang yang memiliki sifat kaya diri (jiwa) akan selalu merasa cukup atas rezeki Allah. Tak menuntut tambahan dan tidak tamak melebihi kebutuhannya. Dia tidak nyirnyir meminta tambahan rezeki kepada Allah, tetapi ridha dengan segala ketentuan dan pembagian-Nya. Seakan-akan dia selalu berkecukupan.

Sebaliknya, orang yang kafir jiwanya, pasti berbeda dengan orang yang kaya jiwanya. Ia tidak merasa cukup atas pemberian Allah, bahkan berusaha mendapatkan kelebihan dari kebutuhan. Dan jika tidak tercapai, dia merasa sangat sedih dan terbebani, seakan-akan orang yang miskin harta, karena ia tidak pernah merasa cukup dengan pemberian-Nya.

Sedang kekayaan jiwa tumbuh dari perasaan ridha atas ketentuan Allah dan menerima perintah-Nya. Karena dia tahu apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal, dia selalu menjaga diri dari ketamakan dalam meminta.

Betapa indah ungkapan yang menyatakan:

kaya jiwa itu adalah merasa cukup sebatas kebutuhan
lebih dari itu bukanlah sebuah kekayaan
namun kekafiran

c. Dari Abu Hurairah ra.; ia berkata: rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya allah Azza wa Jalla, jika memberi suatu nikmat pada hamba, maka Ia sangat senang manakala melihat bekas nikmat itu kepada dirinya. Dan Allah membenci sikap menghinakan diri dan pura-pura menghinakan diri. Allah juga membenci peminta yang tamak dan mencintai orang yang pemalu dan menjaga kehormatan diri.”

d. Dari Abu Idris al-Khaulani rahimahullah, ia berkata: “Aku masuk masjid Damaskus. Di dalamnya ternyata ada seorang pemuda yang berseri-seri wajahnya dan disekeliling banyak orang. Apabila berselisih pendapat tentang sesuatu, mereka menyadarkannya pada orang itu dan merujuk ucapannya. Kemudian aku bertanya tentang pemuda tersebut? lalu dijawab: ‘Itu adalah Mu’adz bin Jabal.’ Keesokan harinya aku datang ke masjid lebih awal, tetapi ia kudapati telah lebih dulu dari Aku dan kutemui ia sedang shalat. Kemudian aku menunggunya hingga ia selesai shalat. Setelah itu aku mendatanginya dari arah depannya, lalu kuucapkan salam, seraya kukatakan padanya: “Demi Allah, sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah.” Ia bertanya: “Sungguh karena Allah?” Jawabku: “Ya, karena Allah.” Ia bertanya lagi; “Sungguh karena Allah?” Jawabku lagi: “Ya, karena Allah.” Kemudian ia menarik selendangku dan mendekatkan diriku kepada dirinya, seraya berkata: “Bergembiralah, karena aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman; Pasti kecintaan-Ku kepada orang-orang yang saling bercinta karena Aku, orang-orang yang duduk-duduk karena Aku, orang-orang yang saling berkunjung karena Aku, dan orang-orang yang saling berderma karena Aku.”
e. Dari Abu Hurairah ra., dari Nabi saw.: “Ada seorang laki-laki pergi menziarahi saudaranya di kampung lain. Maka datang padanya seorang malaikat utusan Allah untuk menanyakan maksudnya seraya berkata: ‘Ke mana tujuanmu?’ Dia menjawab: ‘Saya mau menemui saudara saya di kampung anu.’ Malaikat itu balik bertanya, ‘Apakah karena suatu keuntungan yang kamu harapkan darinya?’ Ia menjawab: ‘Tidak, tapi saya mencintainya karena Allah.’ Malaikat itu berkata, ‘Saya adalah utusan Allah kepada Anda untuk memberitahu, bahwa Allah mencintai Anda sebagaimana Anda mencintai saudara Anda.”

Imam Nawawi rahimahullah berkata:

“Hadits ini menerangkan keutamaan cinta karena Allah dan bahwa cinta ini menjadi sebab Allah mencintai hamba. Juga menjelaskan perihal keutamaan menziarahi orang shalih, sahabat, dan saudara. Selain memberitakan bahwa manusia pun kadang ada yang bisa melihat malaikat.”

f. Dari Abu darda’ ra.; ia berkata: “Tidaklah dua orang laki-laki yang saling mencintai karena Allah, tanpa sepengetahuan keduanya, kecuali Allah lebih mencintai orang yang lebih mencintai saudaranya di antara keduanya.”

g. A’isyah ra. Meriwayatkan bahwa Nabi mengutus seorang laki-laki kepada sebuah pasukan perang. Saat mengimani shalat ini membaca ayat “Qul Huwallahu Ahad” pada rakaat terakhir. Saat pulang perang, mereka menceritakan kepada Nabi. Beliau menyuruh mereka menanyakan hal itu, kenapa dia berbuat demikian? Saat itu ia menjawab, “Pada ayat itu terkandung sifat ar-Rahman dan saya sangat senang membacanya.” Mendengar hal itu Rasulullah saw. bersabda: “Beritahukan padanya bahwa Allah mencintainya.”

h. Dari Umar ra. Dituturkan bahwa seorang laki-laki mendatangi Rasulullah, seraya berkata: “Wahai Rasulullah! Siapakah manusia yang paling dicintaiNya?” Rasulullah saw. menjawab, “Manusia yang paling dicintai Allah adalah orang yang paling banyak memberikan manfaat bagi orang lain, dan amal yang paling dicintai Allah adalah menyenangkan hati saudara sesama muslim, menjauhkannya dari kesusahan, menolongnya membayar utang, atau mejauhkannya dari rasa lapar. Saya lebih suka berjalan dengan saudara sesama muslim daripada I’tikaf sebulan di masjid. Siapa yang menahan dirinya dari amarah, Allah akan menutupi kejelekannya. Siapa yang menahan kemarahan, padahal jika mau dia bisa melakukannya, maka allah akan memenuhi hatinya dengan keridhaan pada hari Kiamat. Siapa yang berjalan dengan saudaranya sesama muslim untuk memenuhi kebutuhannya hingga bisa meneguhkannya, maka Allah akan menguatkan kakinya pada hari Kiamat, saat kaki-kaki makhluk dilemahkan dan dirobohkan-Nya. Ketahuilah, bahwa akhlak yang buruk bisa merusak dan membuat amal sia-sia, seperti cuka bisa merusak madu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar